Unspoken Word - Pria Lain (Episode 1)
UNSPOKEN WORD
EPISODE 1 - PRIA LAIN
"Memasuki halte Rumah Sakit Permata Hijau, sekali lagi memasuki halte Rumah Sakit Permata Hijau. Bagi para penumpang yang akan turun atau transit, hati-hati saat melangkah turun dan perhatikan barang bawaan Anda, terimakasih"
Terdengar announcer bersuara wanita yang memperingatkan para penumpang yang akan bersiap untuk turun.
Seorang gadis berusia 22 tahun, bangkit dari duduknya dan merapat ke arah pintu bersama penumpang lain yang juga hendak turun di Halte Rumah Sakit Permata Hijau.
Saat bus trans Jakarta itu berhenti dan terbuka pintunya, seorang petugas memandu para penumpang untuk turun lebih dulu, sebelum akhirnya mempersilakan para penumpang yang hendak naik alat transportasi umum tersebut.
Gadis berusia 22 tahun tersebut melangkah dengan begitu tenang. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel yang ia kenakan, untuk mengurangi rasa dingin yang menyerang. Ya, sore ini cukup dingin dengan adanya angin yang berembus setelah hujan yang mengguyur beberapa saat lalu.
Setelah melewati jembatan penyeberangan itu Melambaikan tangan untuk menyetop mobil angkutan kota, yang akan ia tumpangi sampai ke Palmerah.
Gadis itu bernama Mozza, seorang putri tunggal dari keluarga yang terpandang tempat tinggalnya. Ayahnya yang pekerja keras mampu membuat keluarga tersebut ditinggikan derajatnya di mata manusia.
Sekitar tujuh menit Mozza menumpang mobil angkutan kota, akhirnya kini ia telah sampai di kediamannya.
Mozza langsung membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya begitu saja, tanpa mengetuk pintu. Begitu pula yang selalu gadis itu lakukan saat pulang dari mengajar.
Ya, dia adalah guru musik. Dan saat ini dia baru saja pulang dari rumah anak didiknya yang bertempat tinggal di daerah Lebak Bulus.
Mozza berniat untuk langsung menuju ke kamarnya, namun sebelum itu dia lebih dulu pergi ke dapur untuk mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya.
Namun, sebelumnya sampai ia di dapur, saat melintasi kamar orang tuanya, masa mendengar ada suara laki-laki dan perempuan di dalam sana. Mozza pun berhenti tepat di depan pintu kamar orang tuanya.
Mozza mengerutkan kening seraya bertanya dalam kesendirian.
"Suara siapa itu? Apa Papa sudah pulang? Tapi, perasaan aku nggak liat mobil di luar?"
Ya, ayah Mozza saat ini tengah pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaannya. Ayah Mozza memang lebih sering berada di luar kota dibandingkan berada di dalam kota. Demi mengejar karir dan mencukupi kebutuhan keluarga, Anthony--ayah Mozza rela berpisah jauh dari keluarga. Bukan hanya mencukupi kebutuhan tetapi juga mencukupi kemewahan sang istri yang sangat menyukai hal-hal yang mewah.
Mozza semakin mengerutkan kening untuk berpikir, sekaligus menajamkan pendengarannya saat ia mendengar dua orang di dalam sana saling tertawa bersama, seolah menggambarkan mereka begitu bahagia bersama.
Semakin mendengar suara si laki-laki, Mozza semakin yakin bahwa itu bukanlah suara ayahnya. Seketika perasaan Mozza menjadi tak karuan, tak bisa dijabarkan.
Tiba-tiba pintu itu terbuka saat Mozza masih berdiri mematung di tempatnya. Seorang laki-laki muncul dari balik pintu.
Baik Mozza maupun laki-laki itu sama-sama terkejut. Apalagi melihat laki-laki itu hanya mengenakan boxer, membuat Mozza seketika ingin muntah.
Otak Mozza semakin berpikir keras, berusaha menepis pemikiran buruk tentang ibunya, namun Mozza tidak bisa menyangkalnya karena faktanya ada di depan mata.
Mozza melihat ibunya yang berada di atas ranjang dan hanya menggunakan underwear serta laki-laki dihadapannya ini hanya mengenakan boxer dan sedikit berkeringat, Mozza cukup yakin bahwa kedua orang itu baru saja melakukan hal yang sama sekali tak pernah Mozza bayangkan.
"Anda siapa?" tanya Mozza pada si laki-laki, dengan suara yang sedikit bergetar.
Mendengar suara Mozza, membuat ibunya yang tadinya memunggungi pintu kini berbalik dan mendapati keberadaan Mozza disana.
"Mozza?" Salma--ibu Mozza berkata lirih.
Salma segera meraih kimononya dan menggunakannya untuk membungkus tubuhnya. Kemudian Salma berjalan ke arah pintu.
"Ini putrimu, Salma?" tanya laki-laki itu pada ibu Mozza. Namun pandangan laki-laki itu tertuju lekat pada Mozza, serta senyum miring terbit di bibir si laki-laki yang masih berdiri di ambang pintu. "Sangat cantik," lanjutnya.
Laki-laki itu mengulurkan tangan hendak meraih dagu Mozza, namun Mozza segera menghindar.
"Jangan macam-macam pada putriku, Arman!" tegur Salma.
"Ma, siapa laki-laki ini?" tanya Mozza tanpa nada, sangat datar.
"Mozza, kenalin, ini Om Arman," ucap Salma sambil meraih satu lengan Mozza. Namun Mozza segera menepisnya, pertama kalinya Mozza merasa jijik disentuh oleh ibunya.
"Aku nggak menanyakan siapa namanya, Ma! Apa hubungan mama dengan laki-laki ini? Dan kenapa dia ada di kamar mama dan papa?" Mozza histeris saat mengatakan kalimat-kalimat pertanyaan itu.
"Om Arman ini teman mama, Sayang," balas Salma kembali ingin meraih lengan anaknya. Namun lagi-lagi Mozza menepisnya.
"Teman? Mama bilang teman? Apa seorang teman pantas untuk berada di dalam satu ruangan dan berada diatas satu ranjang? Apa yang telah kalian lakukan? Apa ini yang dikatakan teman? Apa mama melakukan ini pada semua teman laki-laki mama!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mozza, membuat Mozza terjajar ke samping karena tidak siap menerima perlakuan itu.
Mozza menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang seketika menghujamnya.
Tidak! Bukan tamparan itu yang menyakiti Mozza begitu dalam, karena tamparan itu tidak seberapa sakitnya dibandingkan luka dihatinya. Namun kenyataan bahwa ibunya telah berselingkuh lah yang membuat Mozza terguncang.
Disisi lain, Salma mengepalkan tangannya yang digunakan untuk menampar putrinya itu sangat kuat. Dalam hati kecilnya, ibu satu anak itu menyesali perbuatannya.
"Salma, kamu tidak seharusnya melakukan itu. Kamu menampar putrimu, kamu menyakitinya, Salma," ujar Arman.
Tangan Arman terulur hendak meraih pundak Mozza, namun Mozza segera mundur beberapa langkah.
"Jangan pernah menyentuhku!" seru Mozza dengan nada mengancam. "Dan sebaiknya Anda jangan pernah menemui mamaku lagi!" lanjut Mozza.
Usai berkata demikian, Mozza berlari ke kamarnya, tidak jadi melaksanakan niatnya untuk mengambil minum di dapur.
"Mozza ...!" Salma berteriak tertahan.
Mozza mendengar suara mamanya yang memanggil namanya, namun gadis itu tak peduli.
Mozza buru-buru masuk kedalam kamar, mengambil gitar kesayangannya, kemudian ia keluar lagi dan gadis itu pun segera pergi dari rumahnya.
Arman dan Salma memperhatikan kepergian Mozza dalam diam.
"Putrimu marah dan sekarang pergi dari rumah," lirih Arman.
"Tidak apa-apa, nanti juga dia akan pulang lagi. Aku yang akan menjelaskan padanya nanti," balas Salma terdengar santai, tanpa beban.
"Apa sebaiknya aku jangan datang lagi? Jangan menemuimu lagi?" tanya Arman.
"Bagaimana mungkin? Kalau kamu nggak datang lalu siapa yang akan bermain denganku? Apa kamu sudah bosan? Atau kamu mau aku mencari orang lain untuk menggantikannya?" balas Salma sambil tersenyum licik.
Arman ikut tersenyum miring. Jari jemarinya ia larikan untuk menyusuri wajah Salma dengan sentuhan menggoda.
"Bagaimana aku rela menyerahkanmu pada laki-laki lain? Akulah yang akan melayanimu. Hanya aku yang bisa mengimbangi gayamu diatas ranjang, Sayang," ujar Arman dengan tatapan penuh arti.
"Kalau begitu, ayo kita lakukan lagi, Arman. Aku ingin sekali lagi."
***
To be continued
Kalau aku jadi Mozza, udah aku tampar balik tuh ibunya😂😂😂
ReplyDelete🤭🤭🤭 Mozza masih menghormati ibunya. Terima kasih sudah mampir kak🤗
Delete