Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Unspoken Word - Pertemuan Dengan Sora (Episode 2)

 UNSPOKEN WORD






EPISODE 2 - PERTEMUAN DENGAN SORA


Mozza membekap mulutnya sendiri dengan kuat, agar orang lain tak mendengar isak tangisnya. Karena saat ini dirinya tengah berada di tempat umum, yaitu berada di dalam bus Transjakarta yang ditumpangi dari halte Slipi Kemanggisan tadi.

Mozza berdiri di samping pintu, karena sudah tidak ada lagi kursi yang tersisa untuk bisa ia duduki.

Berpegang pada Handgrip Bus, Mozza menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang masih sedikit basah. Anak rambut menutupi bagian wajah gadis manis itu, mendukung persembunyian yang tengah ia lakukan.

Tiba-tiba saja sebuah tangan terulur, tangan itu memegang sebuah saputangan yang sengaja diberikan pada Mozza.

Mozza mendongak untuk mengetahui siapa pemilik tangan tersebut. Dan Mozza menemukan seorang pemuda dengan mata emerald yang indah, membuat Mozza terhipnotis untuk sesaat.

"Ambil ini, kamu dari tadi nangis di tempat umum, nggak malu?" tanya pemuda itu tanpa mempedulikan Mozza, apakah gadis itu akan kesal, marah atau semacamnya.

Meskipun kesal dengan ucapan pemuda itu, tetap saja Mozza menerima saputangan yang diberikan pemuda itu karena memang Mozza membutuhkannya.

Mozza melirik ke sekitar khawatir ucapan pemuda itu akan menarik perhatian banyak orang di dalam bus. Mozza akan sangat malu kalau ketahuan menangis di dalam bus seperti itu oleh banyak orang. Namun sepertinya tidak ada yang mendengar ucapan pemuda itu karena memang tidak diperdengarkan dengan keras, hanya Mozza saja yang dapat mendengarnya karena kalimat itu diucapkan dengan setengah berbisik.

"Terima kasih," ucap Mozza setelah mengeringkan sisa air matanya menggunakan saputangan tersebut.

"Kalau kita diberikan kesempatan untuk bertemu lagi, aku akan kembalikan saputangan ini setelah aku cuci," lanjut Mozza lagi.

"Nggak perlu, buat kamu aja. Aku masih punya banyak," balas pemuda itu.

"Kamu penjual saputangan?" celetuk Mozza membuat pemuda itu terkekeh kecil.

"Ternyata kamu bisa ngelucu," ujar pemuda tersebut.

"Kenapa nangis? Diputusin pacar?" tanya pemuda itu asal.

"Apa aku harus kasih tahu kamu alasan kenapa aku nangis?" Mozza balik bertanya.

"Nggak juga. Tapi kalau kamu mau kasih tahu aku akan mendengarkannya."

"Maaf, tapi aku nggak bisa menjelaskan alasannya," balas Mozza menolak untuk menjelaskan.

"Oke, aku nggak akan maksa."

"Halte berikutnya adalah halte Grogol. Bagi para penumpang yang akan turun harap mempersiapkan diri dan perhatian barang bawaan Anda, terimakasih."

Suara announcer terdengar, membuat penumpang yang akan turun segera bersiap diri, termasuk Mozza yang memang akan turun di halte Grogol.

"Aku akan turun di Grogol. Terima kasih atas kebaikanmu," kata Mozza sambil membenahi posisi gitar yang sejak tadi ia gendong di punggungnya.

Tiba-tiba pemuda itu mengulurkan tangan, membuat Mozza sekali lagi mendongak untuk menatap laki-laki bermata hijau emerald itu.

"Kenalin, aku Sora," kata pemuda itu. "Katai suatu hari kita ketemu lagi dan kamu yang duluan melihatku, panggil aja namaku," lanjut laki-laki itu lagi.

Mozza tersenyum kemudian menyambut uluran tangan laki-laki yang mengaku bernama Sora itu.

"Moza," balas Mozza amat singkat tanpa basa-basi.

"Memasuki halte Grogol, sekali lagi memasuki halte Grogol. Bagi para penumpang yang akan turun atau transit, hati-hati saat melangkah turun dan perhatikan barang bawaan Anda, terimakasih."

Suara announcer kembali terdengar, menandakan bus yang mereka tumpangi sudah sampai di halte Grogol.

"Aku turun dulu, sampai jumpa," ujar Mozza kemudian segera melangkah turun tanpa menunggu Sora membalas. Karena posisinya memang sudah di depan pintu, Mozza akan tertabrak penumpang lain jika tidak segera turun.

Sora mengulas senyum. "Sampai jumpa, Mozza."

Meskipun Sora tahu Mozza tidak akan mendengarnya, tetap saja ia membalas kalimat itu.

Mozza segera menyeberang jalan dan menuju terminal Grogol. Dari sana Mozza menumpang mobil angkutan kota untuk sampai di kota tua. Ya, gadis itu berniat merekam video kali ini di kota tua.

Hari yang sudah menuju petang itu ternyata masih membuat jalanan kota tetap padat bahkan macet.

Namun, tak berapa lama kemudian Mozza telah sampai di tempat tujuan.

Seperti biasa saat akan merekam video, Mozza menyiapkan tripod dan memasang kamera sebelum ia melakukan aksinya.

Diawali dengan kunci C, Mozza menyanyikan lagu When You're Gone milik penyanyi Avril Lavigne.

Seiring lagu yang terus diperdengarkan, semakin banyak pengunjung kota tua yang datang berkerumun, menonton permainan gitar Mozza yang apik dipadukan dengan suaranya yang merdu.


And all I ever wanted was for you to know

Everything I do, I give my heart and soul

I can hardly breathe I need to feel you here with me

Yeah


Saat menyuarakan bait tersebut, Mozza benar-benar seperti mengeluarkan seluruh emosinya tanpa ditahan, melepaskan segala sesak di hatinya melalui bait lagu yang dinyanyikan. Dan karena aksinya itulah membuat penonton sangat mengagumi Mozza, karena merasa Mozza sangat mampu mendapatkan feel dari lagu yang dinyanyikan, serta bisa menghayatinya dengan baik.

Ya, memang begitulah cara Mozza menyalurkan emosinya, dengan bermusik.

Menjadi pribadi yang penyabar karena harus melatih anak didiknya bermain musik, dan juga menjadi seorang yang ceria di depan kamera, bukan berarti Mozza tidak memiliki masalah. Namun gadis itu cukup mampu menyikapi masalahnya dengan tenang. Setidaknya ia harus bisa menutupi masalahnya dan tetap tampil ceria di depan umum.

Tepuk tangan dan sorak sorai terdengar menggema di udara ruang terbuka tersebut, mereka memuji pertunjukan Mozza yang dinilai bagus di mata para penonton yang dengan sukarela datang menonton.

Beberapa orang yang menyadari Mozza si YouTubers itu, datang menghampiri dan meminta untuk foto bersama. Mozza tidak menolak, itu memang sudah biasa ia lakukan setelah Mozza usai melakukan perekaman video.

Lalu tiba-tiba seorang gadis mungil berumur sekitar lima tahun, datang membawa sekuntum bunga dan diberikannya pada Mozza, dengan wajah dan tingkah menggemaskan.

"Kakak cantik, bunga ini untuk kakak, dari kakak ganteng yang ada disana," kata gadis mungil dengan pipi gembil serta rambut diikat dua itu.

Mozza mengikuti arah tunjuk gadis kecil itu untuk mengetahui siapa kakak ganteng yang dimaksud. Dan benar saja, Mozza melihat seseorang berdiri di sana, dengan santainya melambaikan tangan pada Mozza, membuat Mozza mengulum senyum.

Laki-laki itu adalah Sora.

"Terima kasih, adik cantik. Kamu mau coklat?" tanya Mozza setelah ia mengambil alih sekuntum mawar merah dari tangan gadis kecil itu.

"Kalau tidak merepotkan," balas anak kecil itu sangat sopan. Mozza memuji kesopanan anak kecil itu dalam hati, dan juga memuji orang tua anak kecil itu yang berhasil mendidik anaknya dengan baik.

"Ini, buat kamu." Mozza mengeluarkan satu coklat yang tadi sempat diberikan oleh penggemarnya.

"Terima kasih," kata anak kecil itu yang kemudian berbalik dan pergi.

Sora berjalan mendekat setelah gadis kecil itu pergi.

"Gadis kecil adikmu, atau anakmu?" tanya Mozza spontan.

"Bukan keduanya."

"Lalu?"

"Bukan siapa-siapa, aku cuma minta tolong untuk kasih bunga itu aja. Lihat, dia pergi dengan orang tuanya," balas Sora sambil memperhatikan kepergian anak kecil itu bersama kedua orangtuanya.

Mozza mengangguk saja.

"Kayaknya kamu beneran lagi patah hati, Mozza."

***


To be continued

Post a Comment for "Unspoken Word - Pertemuan Dengan Sora (Episode 2)"