Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Unspoken Word - Tidak Peduli (Episode 3)

 UNSPOKEN WORD




EPISODE 3 - TIDAK PEDULI


"Kamu lagi putus cinta, ya? Diputusin sama pacar?"

"Jangan sok tau, deh!" Mozza membalas ketus sambil membereskan alat musiknya.

"Kelihatan, kok. Jadi jangan mengelak." Sora mencibir dengan seringaian kecil di bibirnya.

"Aku memang patah hati tapi bukan putus cinta, apa lagi diputusin pacar," balas Mozza apa adanya.

"Oh ya? Patah hati tapi bukan putus cinta, lalu apa? Nyatain cinta lalu ditolak?" tanya Sora lagi semakin ngawur.

"Jangan asal bicara, deh! Aku bukan tipe cewek yang mau mendahului seperti itu," balas Mozza dengan membuat bola matanya malas.

"Jadi kamu akan diam aja kalau menyukai seseorang, lalu marah-marah sendiri saat orang itu ternyata suka sama cewek lain?"

"Stop! Jangan bicara lagi karena semakin lama kamu semakin ngaco. Lagian kamu kenapa bisa ada disini? Kamu ngikutin aku, heh?" Mozza kini menentang tatapan Sora yang ternyata sejak tadi tak lepas memperhatikan gadis itu.

Bukannya menjawab, Sora justru mendekat dan mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat Mozza terpaksa membuat tubuhnya condong ke belakang seperti posisi hendak melakukan kayang, untung saja tubuh Mozza termasuk lentur.

Semakin lama Sora semakin maju saja, dan mau tidak mau Mozza memukul dada pria itu untuk menunjukkan aksi protesnya.

Namun sialnya, gerakan kecil yang dilakukan Mozza justru membuat dirinya kehilangan keseimbangan tubuh, Hingga gadis itu pasti akan terjatuh jika saja tangan besar Sora tidak menangkap tubuh Moza.

"Mau ngapain kamu!" pekik Mozza galak.

"Apa? Aku cuma mau nolongin kamu, kalau aku nggak nolongin kamu, kamu bisa bayangin apa yang akan terjadi? Kamu akan jatuh," balas Sora santai.

"Itu juga gara-gara kamu, tau!" kata Mozza ketus kemudian sedikit menjauh dari pria yang tadi membantunya agar tidak terjatuh.

"Melihat reaksi kamu seperti tadi, sepertinya kamu belum pernah berpacaran," celetuk Sora, dan seketika itu pula Mozza langsung mendelik ke arah Sora.

"Apa hubungannya? Lagian itu bukan urusanmu!"

"Ada hubungannya, karena aku sedang menyelidiki, apakah kamu bohong atau enggak."

"Bohong soal apa?" Mozza mengernyit heran.

"Ya, kamu bilang kamu bukan patah hati karena putus cinta, kan? Jadi ya aku ingin tau reaksi kamu aja, dan sepertinya kamu nggak bohong karena aku rasa kamu ini nggak pernah pacaran, jadi mana mungkin putus cinta?" ujar Sora panjang lebar.

"Tch! Tamu itu orang yang sangat sok tau." Mozza membalas ujaran Sora.

"Tapi apa yang aku katakan benar, kan?" Sora masih memancing Mozza untuk angkat bicara.

"Sudahlah, jangan banyak bicara. Lebih baik kamu jawab dulu pertanyaanku tadi, ngapain kamu ada disini? Kamu ngikutin aku?" tanya Mozza yang sengaja menghindari pertanyaan Sora yang tidak ingin ia jawab.

"Kalau aku bilang aku ngikutin kamu, gimana?" Sora kembali mencondongkan tubuhnya ke depan ketika mengucapkan kalimat itu. Tubuhnya yang tinggi, membuat Mozza harus sedikit mendongak saat bicara dengan Sora meskipun pria itu sudah menunduk.

Mozza tidak mau berlama-lama menatap manik mata emerald milik pria dihadapannya, alhasil gadis itu pun mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.

"Ngapain juga kamu ngikutin aku? Kita nggak saling kenal, kan?" tanya Mozza sambil membuang muka.

"Bukannya tadi kita udah kenalan?"

"Maksud aku bukan gitu. Kita nggak kenal dekat, untuk apa kamu ngikutin aku kesini?"

"Aku kesini karena aku khawatir sama kamu." Sora berkata dengan cepat dan dengan nada serius.

Seketika Mozza memalingkan waja, menatap pria itu dan mata mereka pun saling bertemu.

Untuk sesaat Mozza seakan terhipnotis, seolah pandangannya terkunci, membuat gadis itu tak bisa mengalihkan pandangannya kemanapun.

Beruntung Mozza masih bisa mengontrol kesadarannya dan dia pun yang lebih dulu memutus pertemuan mata keduanya.

"Maaf, apa maksud ucapanmu itu?" tanya Mozza dengan perasaan sedikit gugup.

Sora berkata dia mengkhawatirkan Mozza, tentu saja itu menjadi pertanyaan bagi Mozza. Khawatir yang seperti apa yang dimaksud laki-laki berwajah oriental bermata hijau menenangkan itu?

"Yang mana?" Sora justru berbalik bertanya. Mozza kembali mendengus kesal, entah laki-laki itu berlagak bodoh atau benar-benar bodoh.

"Sudahlah, nggak usah dibahas." Mozza memilih untuk pergi saja tak menghiraukan Sora lagi. Namun sebelum Mozza berhasil melangkah, gerakannya terhenti karen kalimat yang diucapkan Sora.

"Tantang aku yang mengkhawatirkanmu?"

Mozza mengumpat dalam hati. Ternyata Sora memang hanya berpura-pura bodoh saja.

"Jadi apa jawabannya?" tanya Mozza tak mau bertele-tele.

"Ya aku khawatir aja. Setelah melihat kamu menangis di dalam bus tadi, aku takut kamu bunuh diri, jadi aku mengkhawatirkan kamu, lalu mengikuti kamu," balas Sora.

"Aku orang terakhir yang berinteraksi dengan kamu, jadi kalau terjadi apa-apa sama kamu tentu saja aku akan ikut terseret," lanjut laki-laki itu lagi.

"Tch, kamu berlebihan! Asal kamu tahu, aku bukan tipe cewek yang berpikir dangkal. Aku nggak akan bunuh diri hanya karena mendapat masalah seperti ini," ujar Mozza dengan ketus dan sedikit perasaan kesal bercampur kecewa. Entah apa yang dirasakan Mozza saat ini, gadis itu pun tidak bisa menjabarkan. 

'Oh, memangnya apa yang kamu harapkan, Mozza? Dasar bodoh! Jangan berpikir aneh-aneh!'

Mozza memaki diri sendiri di dalam hati.

Mozza lantas melangkah pergi, menjauh dari laki-laki yang baru dikenalnya hari ini, tanpa berbalik sedikitpun. Mozza tak memperdulikan Sora lagi.

Di tempatnya berdiri, Sora menggeleng kecil sambil tersenyum miring. Dan tanpa Mozza sadari, Sora kembali mengikuti Mozza secara diam-diam.

***

Mozza kembali melangkah masuk ke dalam rumah besarnya dengan berat hati. Rasanya ia sangat tidak ingin pulang ke rumah. Andaikan saja ini masih siang hari, tentu saja Mozza belum akan pulang. Sayangnya ini sudah cukup larut, akan berbahaya jika dia berada di luar sana di malam hari. Salah-salah dia akan dikerjai oleh bencong yang biasa mangkal di gang dekat rumahnya itu.

"Mozza, kamu udah pulang, Sayang?" 

Suara itu terdengar menyambut kepulangan Mozza, namun Mozza tidak menganggap itu sebagai sambutan. Ia masih marah pada ibunya karena kejadian sore tadi. Mozza sangat kecewa hingga sekarang ia tidak membuka mulut sedikitpun saat melewati ibunya.

Mozza pergi ke dapur untuk mengambil air minum kemudian membawanya ke kamar, karena ia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan ibunya saat ini.

"Mozza, mama sudah membelikan makanan kesukaan kamu dari restoran favorit kamu, ayo makan dulu. Kamu pasti belum makan, kan?" kata Salma lagi dan Mozza tetap tidak merespon.

"Mozza, kenapa kamu mengacuhkan mama? Kamu nggak suka makanannya? Kamu udah bosan? Baik, mama akan pesankan yang baru, kamu mau makan apa?" tanya Salma berbondong.

"Apa mama pernah tahu gimana perasaan aku? Mama nggak pernah sekalipun memasak untuk kita makan. Mama selalu membeli makanan dari luar. Apa mama pikir dengan begitu aku akan merasa disayang, hanya karena mama selalu memberikan apa yang aku mau?" Mozza tidak tahan lagi untuk menahannya, dan kini ia meledakkan emosinya.

"Aku butuh perhatian, Ma! Dengan memakan makanan yang mama masak,aku akan bisa merasakan bahwa mama benar-benar peduli padaku, tapi selama ini mama nggak pernah menunjukkan kepedulian itu sama aku. Mama nggak peduli sama aku, nggak peduli sama papa, mama hanya peduli sama laki-laki perusak rumah tangga orang itu saja!"

"Jaga mulut kamu, Mozza!"

***


2 comments for "Unspoken Word - Tidak Peduli (Episode 3) "

  1. Masakan ibu itu lebih berkesan, kenapa keluarga betah di rumah kalo ibu sering masak, karena dari masakan itulah, ibu membuat erat tali kekeluargaan, jadi buat para ibu jangan malas masak, buat para keluarga juga hargai masakan ibu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak🥺 yang bikin betah dirumah dan pengen cepet-cepet pulang kalau ada diluar, salah satunya ya masakan ibu 👍 makasiih sudah mampir kak😘

      Delete