Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Unspoken Word - Terpaksa (Episode 4)

UNSPOKEN WORD


EPISODE 4 - TERPAKSA

"Kenapa? Apa aku salah bicara?" Mozza tidak gentar untuk menunjukkan aksi protesnya meski ibunya sudah menampakkan kemarahannya.

"Mama hanya peduli dengan kesenangan mama sendiri, nggak peduli sama aku dan papa. Papa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mama yang ingin serba mewah, dan disini mama malah mengkhianati papa. Mama keterlaluan!" Mozza kembali meluapkan kemarahan serta kekecewaannya yang membuat dadanya sesak bukan main.

"Mama membuat rumah yang papa bangun dengan kerja keras, menjadi neraka sekarang!"

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipi gadis itu, dan terhitung ada dua tamparan yang mendarat di pipi kirinya hari ini, dan keduanya diperoleh dari mamanya.

Mozza meringis, bukan karena kesakitan tapi lebih merasa miris. Sakit di pipinya saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit yang menghujam hatinya.

"Apa dengan menamparku mama jadi merasa puas? Kalau begitu tampar lagi, Ma, ayo tampar."

"Cukup, Mozza! Jangan membuat mama semakin marah!" Salma berkata dengan gigi bergemeretak dan tangannya mengepal kuat. 

Sebelumnya Salma sudah merasa bersalah telah menampar putrinya di depan laki-laki simpanannya, tapi kali ini Salma semakin tidak bisa mengontrol diri hingga tamparan keras kembali ia layangkan dan mendarat di pipi putih putrinya.

"Mama marah? Bukannya semua yang aku katakan benar adanya? Lalu apa yang membuat mama marah? Seharusnya aku yang marah karena mama sudah mengkhianati keluarga ini!"

"Mama melakukan ini karena mama kesepian. Papa kamu selalu berada di luar kota, mengurus pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan."

"Apa mama nggak sadar, papa melakukan itu semua untuk mama? Apa mama lupa mama yang menuntut banyak hal pada papa, sampai papa harus bekerja keras, mengambil pekerjaan di luar kota, dan terpaksa harus tinggal terpisah dengan kita. Apa mama pikir papa suka dengan semua ini?" Mozza mengingatkan tentang tuntutan yang mamanya berikan untuk papanya.

Demi menyenangkan istrinya, sang suami rela mengorbankan waktu kebersamaan dengan keluarga tapi apa yang didapat? Sebuah pengkhianatan? Keterlaluan!

"Papa sudah mengajak kita untuk pindah, agar kita tetap bersama-sama. Kalau kita tetap bersama mama nggak akan merasa kesepian, bukan?"

"Mama capek harus selalu berpindah tempat setiap kali papamu dipindah tugaskan, mama sudah nyaman dengan rumah ini, Mozza." Salma membela diri.

"Nyaman karena mama bisa mengundang laki-laki itu sesuka hati?"

"Lancang kamu, Mozza!" 

Salma sudah mengangkat tangannya ke udara, namun hanya sampai disana saja, tidak mendarat di pipi Mozza seperti sebelumnya.

"Kenapa berhenti? Mama mau nampar aku lagi, kan? Ayo tampar, Ma, tampar!" Mozza memasang wajahnya semakin dekat dengan mamanya. 

Namun Salma tidak melanjutkan aksinya, wanita itu menarik turun tangannya yang kini terkepal kuat.

"Kamu salah, Mozza, papa kamu adalah seorang workaholic, dia gila kerja, dia bahkan tidak mempedulikan mama. Sekalipun dia ada di rumah, papamu selalu sibuk dengan pekerjaannya tanpa peduli dengan mama, mengabaikan mama. Mama tidak hanya butuh harta, tapi mama juga membutuhkan nafkah batin, kamu tau?" Salma tidak terima dia terus dipojokkan oleh putrinya, karena ia merasa sejatinya itu bukan pure kesalahan dirinya.

"Tapi bukan berarti mama harus mengkhianati papa dan aku! Mama bisa bicarakan baik-baik dengan papa, bukan seperti ini, Ma! Mama akan merusak keluarga kita kalau mama masih terus melanjutkan hubungannya mama dengan pria asing itu!"

Salma terdiam, dia cukup tertampar dengan semua ucapan yang tadi diucapkan putrinya yang kini telah beranjak dewasa. Salma tahu Mozza benar, tapi entah mengapa ada perasaan yang begitu berat jika ia harus menyudahi hubungannya dengan Arman.

Arman sangat mampu memuaskan dirinya meskipun harus ditukar dengan banyak uang yang harus dikeluarkan untuk laki-laki itu, tapi Salma merasakan kenyamanan. Salma tidak berpikir akan mengakhiri hubungan dengan Arman meskipun putrinya telah memergokinya.

Ini gila! Tapi Salma hanya ingin nafkah batin.

"Aku harap yang aku lihat tadi adalah yang terakhir kalinya, Ma. Kalau ada lain kali, maka aku nggak akan tinggal diam. Aku akan melakukan sesuatu yang bisa membuat mama diusir dari rumah ini!"

Usai menyelesaikan kalimat panjangnya, Mozza menghentakkan kakinya ke lantai sebagai awal langkahnya meninggalkan tempat dimana terjadi pertengkaran itu. Mozza segera menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.

Mozza meletakkan gitar yang di bawahnya ke tempat semula, kemudian ia membanting tubuhnya ke atas kasur besar di kamarnya yang mewah dengan nuansa putih itu.

Rumah mewah dengan model kontemporer elegan ini dibangun atas kemauan Salma. Salma ingin semua benda dan apapun yang dia miliki terkesan mewah serta terlihat expensively. Untuk memenuhi semua kebutuhan Salma yang ingin serba mewah, sang suami rela bekerja jungkir balik hanya agar istri dan putrinya terpenuhi kebutuhannya.

Tak hanya ingin menyenangkan sang istri, Anthony—ayah Mozza juga membelikan mobil mewah untuk Mozza namun Mozza tidak menggunakannya untuk aktivitas sehari-hari. Gadis itu lebih menyukai bepergian menggunakan kendaraan umum, selain akan mengurangi padatnya kendaraan di jalan raya, Mozza juga berpikir ia tidak harus capek menyetir.

Diluar alasan ingin menyenangkan istri dan putrinya, pada dasarnya Anthony memang penggila kerja. Laki-laki itu sangat mengejar kesuksesan dan kehormatan, sampai ia melupakan sesuatu yang amat penting untuk dilakukannya sebagai seorang suami. Selain nafkah lahir, bukankah dia juga harus memberikan nafkah batin? Tapi Anthony melupakan itu, hingga Salma akhirnya mencari kesenangannya sendiri diluar sepengetahuan suaminya.

Tanpa dapat dicegah, air mata Mozza telah membasahi bantal yang ia gunakan untuk alas kepalanya. Rasa sesak di dadanya yang teramat sangat membuat Mozza tanpa sadar menangis tanpa suara.

Mozza sadar dia telah salah membentak mamanya, berkata dengan ucapan-ucapan kasar yang pasti menyakiti hati mamanya. Namun Mozza juga tidak bisa tinggal diam melihat mamanya yang tersesat seperti sekarang. Mozza hanya ingin mamanya sadar. Dan berharap ucapan Mozza yang semena-mena itu dapat menyadarkan Salma hingga hatinya tergerak untuk kembali ke jalan yang benar.

Mozza meraba permukaan tempat tidurnya untuk mencari keberadaan ponselnya. Gadis itu ingin menghubungi papanya. Bukan untuk mengadu, Mozza masih cukup bisa berpikir jernih, tidak mau menciptakan pertengkaran antara kedua orang tuanya. Hanya saja Mozza butuh mendengar suara papanya. 

Sudah hampir pukul sepuluh malam, namun Mozza tak mengurungkan niatnya untuk menghubungi papanya. Karena sejauh yang Mozza ketahui, papanya sangat suka melakukan pekerjaannya hingga larut malam. Meskipun Mozza sudah sangat sering mengingatkan, namun Anthony tetap tidak mengubah kebiasaannya itu.

Mozza melakukan panggilan video, agar bukan hanya suara papanya yang ia dengar, tapi juga keadaan papanya bisa ia lihat.

Tak lama setelah Mozza melakukan panggilan, Anthony sudah menjawab panggilan putrinya.

"Mozza, kamu menangis?"

***


Post a Comment for "Unspoken Word - Terpaksa (Episode 4)"