Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

I Cried So Many Tears

I Cried So Many Tears

(As-Sana) 




Osaka 1 Maret 2000

Derit roda kereta yang terdengar, asap cerobong dari pabrik, dan hembusan angin yang menerbangkan rok selutut milikku. Mengingatkanku tentang dirimu Kazuki. Pria jakung, tinggi, dan tampan yang selalu memandangku hangat dibalik lensa kacamata minus yang kamu kenakan. 

Hari itu aku masih ingat pertemuan kita. Di Stasiun Osaka (大阪駅 Ōsaka-eki) mata kita bertemu saat ingin memasuki gerbong kereta tujuh. Kamu yang berdiri di sampingku, membawa tas ranselmu di bahu. Menunggu kereta api tujuan Tokyo berhenti dilajur dua. 

Ku kira saat itu kita hanya orang asing yang tidak akan pernah saling mengenal. Karena kita memang tidak pernah saling menyapa. Hanya dua mahasiswa yang sama-sama harus berangkat ke Tokyo untuk kuliah setiap pagi. Entahlah kenapa kita tidak tinggal di asrama kampus saja atau apartemen yang ada di Tokyo. Kita justru memilih naik kereta api setiap pukul 05.00 pagi untuk pergi ke sana. Memang hal uniik dan aneh. 

Setiap hari kita berdiri di tempat yang sama, duduk di kursi yang sama, dan berada di gerbong kereta yang sama. Tidak ada percakapan, tidak ada saling menyapa. Hanya diam membisu menunggu masinis menghentikan kereta di stasiun selanjutnya. 

"Ren! Jangan lari-lari!" 

Hingga seorang anak kecil menabrakku dan menjatuhkan tasku tepat di bawah kakimu yang tengah duduk. Melihat ke arahku. Kamu tersenyum tipis kemudian mengambilkan tas milikku.

Kamu menyerahkan tasku tepat ke pegangan tangan kananku, hingga jari kita saling bersentuhan. 

"Ah, terima kasih," ucapku gugup. 

"Kitamura Kazuki." 

Sebuah nama yang mengingatkanku pada salah satu aktor terkenal, Tuan Kitamura Kazuki yang lahir pada 17 Juli 1969. Salah satu aktor yang mendapatkan penghargaan dari Yokohama Film di Festival keempat belas sebagai aktor pembantu terbaik. Itu adalah namamu. Sangat indah. 

"Sanao Riko," balasku. 

Pagi ketujuh saat aku bertemu dengannya, kita saling bertukar nama. 

Kulihat Kazuki yang akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi kereta telah berhenti di Stasiun Tokyo distrik perkantoran Manurouchi ( 東京駅). Berhentinya kereta juga menjadi akhir pertemuan kami hari itu. 

Tiga hari selanjutnya. 

"Riko! Jangan lupa bawa bekalmu!" 

Ibu berteriak menenteng bekal kotak makan bento yang hampir tidak pernah aku lupa bawa. Namun, karena pagi ini aku bangun kesiangan. Alhasil aku hampir melupakannya. 

"Aku pergi dulu Ibu!" 

"Hati-hati dijalan! Jangan pulang kemalaman!" 

"Iya!" 

Tanganku melambai bergegas berlari meninggalkan rumah. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kazuki. Hari ini aku telah bertekad akan memulai percakapan lebih dulu. Membalas ucapannya yang tertunda sebab pemberhentian kereta kemarin. 

Kulihat Kazuki yang sudah berdiri di tempat biasa. Menunggu kereta api datang. Dan tempat yang mengarahkan ke gerbong tujuh. 

Aku berdiri gugup. Kurapikan rambutku yang kusut berantakan karena tertiup angin, dan aku lihat riasanku di cermin ponsel. Hem, sempurna pujiku. Sengaja aku memakai lipstik hari ini karena ingin bertemu dengan Kazuki. 

"Pagi Riko," sapanya manis. Hampir membuat jantungku melompat keluar. Sungguh saat Kazuki memanggil namaku seperti itu. Aku sudah terbang ke langit ketujuh. 

"Selamat pagi Ka-zuki," jawabku terbata. 

Kupandangi wajah tampannya lebih lama. Melihat mata indahnya dibalik kacamata. Bibir Kazuki yang cukup tebal dengan sedikit belahan di tengah terlihat manis. Aku sampai berpikir macam-macam bagaimana rasanya mencium bibir Kazuki itu. 

"Riko!" 

"Riko!" 

"Ah maaf." Walau tadi niatnya aku yang akan memulai percakapan. Nyatanya aku kacau di depannya. Mulutku jadi gagu, lidahku kelu. Benar-benar memalukan. 

"Kamu melamun?" 

Aku tersenyum kikuk. Dan sialnya saat aku tersenyum, akan menjawab pertanyaan Kazuki sebuah kantong plastik yang entah datang dari mana tertiup angin dan menempel di wajahku. Membuat aku terlihat sangat bodoh. 

"Riko, kamu sangat lucu," katanya sambil tertawa. Dia meledekku. Oh Astaga, bukannya marah aku justru terpesona melihat senyum lebar Kazuki. Sanao Riko kau memang benar-benar payah. 

"Keretanya sudah tiba. Ayo naik!" Kazuki menarik slempangan tas milikku menyeretnya memasuki gerbong. Kami duduk di kursi yang sama seperti biasa. Saling berhadapan. Cuma bedanya kali ini tidak begitu hening. Karena terjadi obrolan-obrolan kecil di antara kami. 

Kazuki tertawa, sebuah tawa yang baru aku ketahui. Mahasiswa itu membuat jantungku berdebar untuk kesekian kali. Hanya debaran kecil yang nantinya akan bertambah degupan kencang. 

"Ingin menonton di hari Minggu?" tanya Kazuki tiba-tiba di tengah-tengah obrolan kita yang tengah membahas kucing seorang nenek yang duduk di samping kami. 

Aku anggap itu adalah ajakan kencan. Tentu saja aku langsung mengangguk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. 

"Kalau begitu kita bertemu lagi hari minggu di stasiun ini. Bagaimana?" 

"Hem," dehemku sepakat. 

Akhirnya kereta kami berhenti. Begitupun dengan obrolan tentang rencana menonton film. 

"Riko! Aku pergi dulu! Dah!" ucapnya riang berlari meninggalkanku yang baru saja keluar dari gerbong tujuh. Aku cuma tersenyum berkata "Dah!" dengan lirih. Berharap hari Minggu datang dengan cepat. Hingga aku bisa bertemu lagi dengannya. 

Hari Minggu. Kami kembali bertemu di stasiun kereta. 

Kakiku sudah gemetaran gugup menunggunya. "Di mana dia?" Lalu sebelum kepalaku menoleh, tepukan di pundakku seketika membuyarkan semuanya. "Kazuki!" seruku kesal karena pria itu mengejutkanku. 

"Nonton?" 

"Iya." 

Dia berjalan di depan, memegang dua tiket menonton ke bioskop terdekat di Osaka. Kali ini tujuan kami bukan Tokyo. 

"Riko ke mari."

Aku menatapnya serius saat dia menyuruhku duduk di sebelahnya. 

"Lebih hangat kalau kita duduk berdua. Musim dingin sebentar lagi tiba. Aku dengar salju pertama akan turun hari ini." 

Aku mengikuti arah pandang Kazuki yang melihat jendela kaca kereta api. Embun yang tercetak jelas di kaca itu seketika membuatku merasa tangan Kazuki mulai hangat di telapak tanganku. Ternyata dia menggenggamku saat aku tidak sadar melihat keluar.

"Riko." 

Suara derit laju rel kereta api terdengar berdecit, dan butiran salju mulai turun sedetik setelahnya. 

DEG. 

Aku terkesiap. Jantungku berdetak. Begitu kencang dan bertalu. Bibir Kazuki berlabuh di bibirku. Dia menciumku! Ciuman pertamaku!"

"Aku menyukaimu Riko." 

Ckitttt........ 

DUARRR. 

Gerbong depan kami meledak. Terdapat kobaran api yang besar yang tiba-tiba memporak-porandakan kereta. Masinis mengerem laju kereta sebisanya, tetapi semua sudah terlambat. Ledakan itu menghempaskan tubuh kami berdua sampai membentur pintu gerbong yang lain. 

"Kazukiiii......!" 

Kulihat tubuh Kazuki mendekapku, memelukku begitu erat, melindungiku dari ledakan. Lempengan pintu gerbong depan yang melayang ke arah kami menghantam punggung Kazuki hingga kudengar suara tulangnya yang retak. Kobaran api yang panas menyala-nyala menyengat kulit kami sampai memerah. Mukaku yang sudah aku rias sedemikian rupa kini terkena uapan arang hingga cukup hitam. Aku terbatuk, mulai sesak napas. 

Sedangkan Kazuki, aku lihat dia tersenyum dengan darah di bahu dan punggungnya. 

"A-yo ber-ken-can."

Air mataku jatuh. Menangis kencang saat melihat dia menutup mata. Dengan luka yang sangat parah, luka bakar di punggungnya. Aku berusaha menolongnya, melakukan berbagai macam cara untuk membuat dia tetap bangun. Tapi sayang, aku pun mulai sesak napas hingga tanpa sadar ikut memejamkan mata tidak tahu lagi apa yang terjadi pada kami. 

Hingga satu bulan kemudian, aku terbangun. 

"Riko!" Ibu menangis di sampingku tersedu-sedu. Memelukku erat-erat. Tapi aku tidak mampu mendengar apa yang dia katakan. 

"Dokter apa yang terjadi pada putriku?" 

Aku menatap gerak bibir ibu yang mencoba berbicara dengan dokter itu. Kemudian pria berjas putih itu menyerahkan cermin menunjukkan luka bakar di bagian belakang leher sampai telingaku. Aku dinyatakan mengalami gangguan pendengaran. Aku menjadi seorang tunarungu. 

"Kazuki! Ibu di mana Kazuki? Aku harus melihat keadaannya?" 

Bukannya sedih terhadap kondisiku sekarang. Aku justru menanyakan Kazuki. Pria yang telah mencuri ciuman pertamaku. 

Karena ibu tidak kunjung merespon. Aku menuliskan nama Kitamura Kazuki di sebuah kertas kecil di nakas. 

"Kitamura Kazuki? Mahasiswa itu?" 

Aku mengangguk. Lalu wajah ibu tampak pias tidak berani membuka mulutnya.

"Ibu kenapa diam saja? Di mana Kazuki?"

Ibu menangis membuatku semakin gelisah dan takut.

"Ibu! Katakan di mana Kazuki?"

Aku memberontak melepaskan selang infus yang menancap di pergelangan tanganku hendak keluar. Tapi ibu melarangnya. 

"Dia ada di sini Riko."

Langkahku terhenti, membalikkan badan melihat perempuan yang sudah melahirkanku. Ibu menunjukkan guci abu yang bertuliskan "Kitamura Kazuki" di sana. 

"Tidak! Ibu pasti bercanda! Tidak mungkin Kazuki meninggal!" 

Ibu semakin menangis dan akupun demikian. Dadaku sesak, napasku tercekat. Seolah semua duniaku telah luruh dan hancur tak tersisa. Kazuki meninggal. 

"Pemuda itu tidak tertolong, dia meninggal di tempat terjadinya kebakaran gerbong kereta itu. Kazuki Kitamura merupakan salah satu korban yang meninggal dari lima orang yang kehilangan nyawa hari itu."

Aku mematung. Jatuh terduduk lemas. Kepalaku pening. Kazuki, cinta pertamaku telah tiada. 

'Riko aku menyukaimu.'

"Argghh.....!" jeritku menangis. Terus menangis, hingga jatuh pingsan ke lantai tidak sadarkan diri. Dokter membopongku kembali ke ranjang pasien mulai memasang alat-alat medis itu lagi. Tapi aku tidak mau, aku sudah menyerah dengan kehidupan ini. Kazukiku telah pergi selamanya. 

Empat belas hari aku menangis. Tapi luka di hatiku belum sembuh. Rasa kehilangan itu belum enyah. Kazuki terus muncul dalam ingatanku, dan membuatku bersedih berulang kali. Hari-hariku semakin suram. Tidak ada lagi senyuman. 

Bulan demi bulan, dan tahun berganti tahun. Kazuki tetap tidak bisa aku lupakan. Hingga aku dewasa, aku tidak bisa menghapus sosok Kazuki. 

Osaka 1 Maret 2010

Sepuluh tahun berlalu sejak kecelakaan itu. Kini aku telah bekerja sebagai pengajar di sekolah disabilitas terdekat dari rumah yang aku sewa. Rumah hasil cicilan gajiku setiap bulan. Aku tetap mengalami kecacatan pendengaran. Aku hanya bisa membaca gerak bibir setiap orang yang berbicara denganku. 

Pagi ini aku ada kelas mengajar pagi. Seperti biasa aku akan menaiki kereta api yang sama sejak sepuluh tahun, dan tetap duduk di kursi yang sama gerbong tujuh. Di depanku selalu ada bayangan Kazuki yang membawa ranselnya sambil tersenyum. Memandangku saat aku menangis. 

"Kakak, kenapa menangis?"

Seorang anak kecil memberikanku sapu tangan bergambar stroberi. 

"Kakak, jangan menangis." 

Tapi air mataku tidak pernah berhenti dan terus menetes. Aku menangis selama sepuluh tahun untuk melupakan dia--Kazuki. Orang yang aku cintai. 

***

-THE END. 


BIONARASI

As-Sana adalah nama pena kesukaan penulis Siti Asiyah. Nama pena ini diambil dari empat huruf depan saudaranya. As-Sana merupakan wanita introvert, lebih tepatnya ia senang ketenangan dan kesendirian. Dia bercerita melalui pikiran dan tertuang dalam tulisan-tulisannya. 

Perempuan kelahiran Tuban 08 Juni 1999 ini menyukai kisah romansa sad story. Namun, dia juga menulis novel romansa manis dan komedi. As-Sana memulai karir menulisnya sejak Juni 2020. Selama dua tahun ini, sudah banyak novel online yang dia tulis di berbagai platform seperti karyanya Suamiku Tunanetra, Marriage of Blossom, dan Remarried Contract yang terbit di Novelme dan karya terbarunya sekarang My Boss Wife di Fizzo. Ia juga menerbitkan novel cetak "Cahaya Cinta Terakhir" secara indie di penerbit Pena Baswara Publishers pada tahun 2021 kemarin. Novelnya yang lain bisa kalian intip di akun instagram menulisnya @rain_session




2 comments for "I Cried So Many Tears"