Bukan Cinta Virtual
Bukan Cinta Virtual (Elpit)
[Selamat ulang tahun]
Pesan itu masuk tepat pukul dua belas malam dari pria tengah malam. Mengapa disebut pria tengah malam? Karena pria itu berkenalan dengan Chika ketika tengah malam. Bukan hanya pria itu yang mendapat julukan tersebut, Chika sendiri pun sama, dijuluki gadis tengah malam. Itu seperti panggilan khas antara kedaunya yang berkenalan lewat dunia maya.
Senyum terukir manis di bibir tipis milik Chika.
Secepatnya jemari tangan Chika mengetik pesan balasan untuk pria tengah malam itu, yang sudah menemaninya di dunia maya selama tiga bulan terakhir.
Namanya Pandu. Pemuda yang mengaku bekerja di perusahaan swasta di Jakarta, dan juga melanjutkan kuliah di sebuah universitas swasta pula. Pemuda itu bekerja di pagi sampai sore hari, kemudian melanjutkan kegiatan pendidikannya di sore sampai malam hari. Menyebabkan Pandu sering bergadang hingga tengah malam untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya.
Sedangkan Chika, gadis yang sering mengalami insomnia hingga jika belum lewat tengah malam gadis itu belum bisa memejamkan mata.
Dan, ya ... perkenalan mereka terjadi di tengah malam, tiga bulan silam.
Selama tiga bulan pula, mereka tidak pernah absen untuk saling berkomunikasi lewat akun sosial media, sengaja tidak bertukar nomor pribadi karena mereka pikir itu akan menghilang kesan yang menyenangkan di antara mereka. Bukankah mereka memang berkenalan lewat dunia maya? Jadi biar saja terus berkomunikasi di sana saja sampai waktunya mereka melakukan pertemuan.
Meskipun tidak lama, tapi mereka selalu menyempatkan berkomunikasi di setiap harinya, meski hanya beberapa menit saja. Dan itu menjadi rutinitas tengah malam bagi keduanya.
Pandu dan Chika adalah nama yang mereka gunakan untuk akun sosial media mereka, namun tidak ada yang tahu bahwa ternyata itu bukan nama asli. Keduanya sengaja menggunakan nama palsu karena alasan tertentu.
[Besok aku dan teman-temanku akan merayakan hari ulang tahunku sepulang kerja. Kecil-kecilan, paling traktir mereka makan, udah.]
Pesan itu di kirim oleh Chika dan langsung terbaca oleh Pandu.
[Boleh, dong, traktir aku juga.]
Pesan balasan di kirimkan Pandu dan disusul stiker tertawa setelah pesan itu.
Membacanya, Chika ikut di buat tertawa.
[Boleh aja, tapi kamu harus datang ke tempat. Aku nggak mau kalau harus mengirimkan paket ke tempatmu.]
Pandu membaca pesan Chika dan ia berpikir sebentar.
“Apa ini saatnya kita ketemu?” gumam Pandu dalam kesendirian. “Ya, kayaknya aku emang harus datang. Mau sampai kapan kita saling menebak-nebak? Kalau udah ketemu pasti lega, kan?” lanjut pemuda itu.
[Kasih tau di mana kalian akan merayakan ulang tahunmu, aku akan mengusahakan untuk datang.]
Kesediaan Pandu untuk datang ke perayaan ulang tahun Chika, membuat gadis itu melebarkan senyum. Rasanya ada sesuatu yang hangat menyelusup ke dalam hatinya. Tak bisa dipungkiri gadis itu berdebar sekarang. Memikirkannya saja membuat pipi Chika merah padam, bagaimana jika benar bertemu?
“Dia beneran mau datang, kah? Kenapa aku jadi malu sendiri? Gimana kalau abis kita ketemu, dia jadi menjauh karena aku nggak sesuai yang ada di bayangan dia? Duh ... gimana, dong?” Chika panik sendiri.
Chika yang sedang panik, tidak tahu harus berkata apa, hingga ia membalas pesan Pandu dengan sangat singkat kemudian ia menutup aplikasi sosial media tersebut lalu gadis itu pun berusaha untuk memejamkan matanya meski kenyataannya amat susah. Apalagi memikirkan pertemuannya dengan Pandu esok, membuat Chika semakin sulit untuk pergi ke alam mimpi.
***
Sesuai dengan rencana, pulang bekerja Chika mengajak tiga orang temannya ke sebuah kafe modern yang sedang viral di kotanya. Oh bukan! Bukan Chika yang mengajak, namun lebih tepatnya Chika lah yang di seret oleh ketiga temannya.
Ketiga teman Chika sibuk memesan makanan dan minuman ini dan itu, dan mereka sangat heboh. Sedangkan Chika? Gadis itu malah sibuk berkirim pesan dengan Pandu. Chika membagikan lokasinya pada Pandu dan pemuda itu mengatakan akan segera sampai dalam beberapa menit.
“By, kamu nggak pesan? Udahan dulu, dong, main HP-nya. Kita, tuh, harusnya seru-seruan hari ini. Iya nggak, Gaes!” Citra menginterupsi, mau tidak mau Chika yang dipanggil dengan nama aslinya, meletakkan ponselnya di atas meja. Chika beralih menatap daftar menu kemudian menyebutkan makanan yang di pilih pada pelayan.
“Padahal tadi Reno mau ikutan, loh, By, tapi kamu nggak bolehin.” Melani membuka topik pembicaraan sembari mereka menunggu makanan datang.
“Aku nggak mau ada cowok yang ikutan, udah deh,” balas Chika yang sebenarnya tak mau membahas pemuda itu.
“By, kamu tuh sadar nggak, sih? Reno naksir kamu, tau!” Sinta ikut angkat bicara, menyambung obrolan. Melani dan Citra mengangguk mengiyakan ucapan Sinta.
“Aku tau, makanya aku nggak mau dia ikut, takut baper,” balas Chika terkesan cuek.
Ya, Chika tau pemuda bernama Reno yang menjadi rekan kerjanya itu menyukai dirinya karena memang Reno pernah mengungkapkan perasaan pada Chika, namun Chika menolak.
“Kenapa kamu nggak terima Reno aja, sih? Dia baik, loh, perhatian juga,” ujar Melani lagi.
“Ya, kamu benar. Reno emang baik dan perhatian, tapi bukan ke aku doang. Reno baik dan perhatian ke semua cewek, termasuk kalian. Dia itu playboy, kalau kalian mau ya kalian aja sana pacaran sama dia!” Chika mencibir ketika teman-temannya sekali lagi memojokkan dirinya.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya makanan mereka datang. Ketiga teman Chika pun lantas menyantap dengan semangat empat lima, seketika melupakan obrolan mereka sebelumnya.
Chika berdecak pelan. Ketika sudah bertemu makanan maka ketiga temannya itu akan mengabaikan hal lain. Namun Chika lega karena tidak harus meributkan soal Reno lagi.
Ponsel Chika yang berada di atas meja berbunyi. Sebuah pesan dari Pandu di terima dan gadis itu segera membukanya dengan perasaan tak menentu.
Beberapa saat lalu pemuda itu mengatakan akan sampai dalam beberapa menit, apakah sekarang dia telah sampai? Begitu pikir Chika.
[Aku udah sampai di kafe yang kamu maksud. Sekarang kasih tau aku, kamu ada sebelah mana?]
Chika mengeratkan pegangannya pada ponselnya, ia gugup sekarang.
‘Dia udah sampai? Kenapa aku tiba-tiba takut gini, sih!’ batin Chika berbicara.
Menyadari keterdiaman temannya, Citra yang duduk di sebelah Chika menyenggol lengan gadis itu. “Kenapa? Kok kamu keliatan gugup gitu?” tanya Citra.
Cepat-cepat Chika mencoba mengendalikan ekspresinya, namun perasaan gugup yang lebih mendominasi membuat gadis itu tidak bisa membohongi teman-temannya. Kegugupannya sangat kentara.
“Itu ... sebenarnya ada temanku mau datang. Dia udah ada di depan. Aku kasih tau dia dulu, ya, dia nanya kita ada di sebelah mana.” Chika berkata tanpa bisa berbohong, kemudian ia segera mengetik balasan untuk Pandu dan segera mengirimnya.
[Aku ada di meja dekat jendela.]
Setelah membaca pesan dari Chika, arah pandang Pandu tertuju pada deretan meja yang terletak di dekat jendela. Pandu mengamati satu-persatu, menebak yang mana kira-kira gadis yang akan ia temui itu. Beberapa meja di sana memang terisi oleh para gadis, membuat Pandu kesulitan memutuskan meja yang mana yang benar.
[Meja di dekat jendela semua berisi gerombolan cewek-cewek. Aku nggak tau kamu ada di meja yang mana.]
Pesan itu kembali dikirim Pandu, dan Chika pun spontan celingukan. Benar saja apa yang di katakan Pandu, semua meja di dekat jendela memang terisi oleh pengunjung perempuan. Kemudian Chika memberitahu lebih detail di mana keberadaannya.
Pandu yang masih mengamati meja-meja di dekat jendela, melihat gelagat Chika yang celingukan kemudian sibuk dengan ponselnya. Tak lama setelah itu Pandu menerima pesan lagi.
[Aku dan teman-temanku masih menggunakan pakaian kerja, jadi penampilan kami mungkin berbeda dengan cewek-cewek di meja lain. Kami melapisi pakaian kerja dengan outer.]
Cukup panjang penjelasan Chika. Dan Pandu semakin yakin bahwa gadis yang ia lihat tadi memang benar Chika.
Pandu melangkah semakin mendekati meja di mana Chika dan teman-teman berada. Kafe yang cukup padat dengan orang berlalu lalang membuat gerakan Pandu tidak kentara, namun Pandu cukup bisa semakin jelas melihat siapa Chika sebenarnya.
Pandu mematung di tempatnya berdiri ketika beberapa langkah lagi ia sampai di tempat Chika berada. Pandu tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Pandu tidak percaya bahwa Chika adalah gadis yang ternyata amat ia kenali di dunia nyata.
Pandu tersenyum getir. Ia sedikit ragu untuk melanjutkan langkah. Namun jika ia pergi, apakah ia tidak seperti orang pengecut?
Pandu kembali mengetik pesan.
[Apa kamu yang pake outer warna putih?]
Chika membuka pesan itu dan hal itu di amati oleh Pandu.
Pandu merasakan hatinya mencelos. Tenyata orang yang selama tiga bulan ia kenal di dunia maya itu adalah seorang gadis dari masa lalunya.
[Iya benar.]
Pesan singkat itu diterima Pandu. Detik berikutnya Pandu menekan tombol panggil dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
Melihat ponselnya berdering, tanpa pikir panjang Chika menerima panggilan tersebut.
[Hallo.]
Suara Chika terdengar sangat tidak asing di telinga Pandu. Dan jujur saja ia merindukan suara itu.
Pandu tersenyum tipis. [Ternyata kamu masih sama kayak dulu, Ruby.]
Chika tercekat mendengar suara si pemanggil yang ternyata sangat familiar di telinganya. Apalagi pria itu memanggil nama aslinya. Chika sudah berusaha untuk melupakan pemilik suara tersebut, namun nyatanya sampai sekarang suara itu masih menjadi favorit untuk ia dengar.
Chika, atau yang memiliki nama asli Ruby, berdiri dari duduknya kemudian mengedarkan pandangannya mencari keberadaan si penelepon.
Mata Ruby menangkap seseorang yang sedang dalam posisi menelpon seperti dirinya. Ruby semakin terkejut karena pria itu benar-benar pria yang selama ini sangat sulit untuk ia lupakan.
[Kelvin ....]
Mendengar gadis itu menyebutkan nama aslinya dengan suara yang amat pelan, Pandu yang tak lain adalah Kelvin itu mengakhiri panggilan teleponnya, kemudian berjalan lebih mendekat.
“Ini beneran kamu, Kelvin?” Ruby mengucapkan kalimat itu ketika Kelvin sudah sampai di hadapannya, masih tidak bisa mempercayai apa yang terjadi sekarang.
“Lama nggak ketemu, Ruby.” Berbeda dengan Ruby yang tidak bisa mengontrol ekspresinya, Kelvin tampak begitu tenang.
Ruby segera menarik napas, kemudian memperkenalkan Kelvin pada ketiga temannya. Setelah itu Kelvin meminta izin untuk membawa Ruby pergi dari sana karena ada beberapa hal yang memang harus mereka selesaikan.
Mereka tidak pergi jauh, tetap di kafe yang sama namun Pandu mengajak Ruby pindah ke meja lain, yang berada di lantai dua karena di sana lebih tenang sehingga mereka bisa mengobrol dengan nyaman. Bukan VIP, tapi di lantai dua satu kelas lebih tinggi dari pada di lantai satu.
“Maaf, saat itu aku main mutusin kamu gitu aja.” Setelah beberapa saat saling membisu, Kelvin mulai membuka pembicaraan.
Ada kecanggungan di antara keduanya karena di masa lalu mereka adalah pasangan kekasih, sebelum Kelvin tiba-tiba pergi tanpa alasan yang jelas dan mengakhiri hubungan mereka secara sepihak.
“Kalau kata maaf bisa mengembalikan keadaan, aku akan dengan mudah memaafkan kamu.”
Kelvin tersenyum getir mendengar ucapan Ruby.
“Saat itu aku di jebak. Seseorang mengurungku di sebuah kamar hotel setelah aku diberi obat bius. Waktu aku bangun, ada seorang perempuan di sisiku. Perempuan itu bilang aku meniduri dia, dan dia minta aku untuk bertanggung jawab. Aku nggak tau harus bagaimana menjelaskannya ke kamu, jadi aku pergi gitu aja dari kamu. Maaf.”
“Jadi sekarang kamu udah menikah dengan perempuan itu?” Rasanya sangat pedih ketika kalimat itu terucap dari bibirnya, namun rasa ingin tahu Ruby sangat mendominasi.
Kelvin menggeleng. “Aku melakukan penyelidikan, dan ternyata itu semua nggak benar. Aku udah bilang tadi, kan, kalau aku cuma di jebak. Waktu aku udah membuktikan kalau aku nggak bersalah, aku menyesali perbuatanku ke kamu. Aku ingin menghubungi kamu lagi tapi rasanya aku malu.”
Terjadi keheningan sesaat hingga Kelvin kembali bersuara. “Di kesempatan ini, aku mau minta maaf sama kamu, Ruby, aku benar-benar menyesal. Kamu mau maafin aku, kan, By?”
Ruby mendesah pelan. “Aku kecewa, Vin, aku sangat ingin membencimu, tapi cintaku lebih besar dari rasa benciku. Aku ingin melupakanmu tapi kamu semakin melekat dalam ingatan. Aku ... udah maafin kamu sebelum kamu memintanya, Vin.”
“Terima kasih banyak. Aku malu untuk bertemu denganmu lagi, tapi jujur aku lega setelah mendapatkan maaf darimu. Dan, Ruby, apa aku boleh tanya satu hal?”
“Tanya aja.”
“Apa kamu masih mencintaiku, By?”
Ruby mendesah lagi. “Bukannya tadi aku udah bilang, apa masih harus aku perjelas?”
Kelvin tersenyum. Ia cukup mampu menangkap sinyal yang diberikan Ruby, namun ia hanya ingin memastikan saja.
“Selama ini aku sama sekali nggak bisa melupakan kamu, By, kamu masih menjadi satu-satunya orang yang aku cintai. Dan aku ... ingin kita memulai kembali hubungan kita. Apa kamu bersedia?”
Kelvin cemas menunggu jawaban Ruby. Meskipun Ruby mengaku masih mencintainya, namun melihat ekspresi datarnya sekarang, Kelvin takut dirinya akan ditolak.
“Aku bersedia, tapi dengan satu syarat. Jangan mengambil keputusan secara sepihak lagi.”
Kelvin tersenyum lega mendengar jawaban Ruby yang menyejukkan hati. “Aku berjanji.”
~ Tamat ~

Post a Comment for "Bukan Cinta Virtual"