Hujan Pertama Di Tahun Ini
Hujan Pertama Di Tahun Ini (Elpit)
"Di luar sepertinya akan turun hujan, kamu mau aku antar pulang, Anna?" tanya seorang laki-laki bernama Adam, pada gadis bernama Annalise.
Gadis itu menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku akan pulang naik bus kota saja," balas Anna tak lupa dengan senyum manisnya, menolak dengan sopan.
"Anna, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu, apa kamu punya waktu luang?" tanya Adam dengan sorot mata penuh harap.
Anna mengangguk. "Bicara saja, aku akan pulang setelah kita selesai bicara."
"Tidak disini. Maksudku, apa kita bisa mengobrol di tempat lain, sambil memesan secangkir coklat hangat, mungkin?" ujar Adam. Laki-laki itu tentu tidak kan nyaman membicarakan hal penting di pelataran kantor. Terlebih lagi mendung semakin pekat, khawatir hujan turun tidak lama lagi.
Anna berpikir sebentar sambil mengamati langit yang semakin menghitam. Gadis itu ingin menolak tapi ada perasaan tidak enak karena ia sudah sangat sering menolak ajakan laki-laki di hadapannya itu.
"Baiklah, tidak masalah," balas Anna pada akhirnya.
Adam melebarkan senyum. Ia merasa puas setelah sekian banyak penolakan, akhirnya kini Anna setuju untuk sekedar minum coklat hangat bersama.
"Kalau begitu, ayo kita pergi ke kafe Putih. Aku ingat kamu menyukai minuman coklat disana, bukan?"
"Iya."
Adam membukakan pintu mobil dan Anna segera masuk. Setelahnya, Adam segera menyusul masuk dan melajukan mobilnya perlahan. Meski jaraknya tidak terlalu jauh, namun mobil itu menempuh berjalan yang lebih lama dari biasanya. Adam sengaja memperlambat laju mobilnya agar ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk berdua dengan gadis disampingnya itu.
***
Sudah hampir sepuluh menit terbuang tanpa hal yang berarti. Adam masih belum juga membuka mulut padahal laki-laki itu mengatakan ada hal yang ingin dibicarakan.
"Adam, hal apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Kita disini tidak untuk saling diam, bukan?"
Karena merasa sudah cukup menunggu, akhirnya Anna membuka suara lebih dulu.
"Ah, maaf. Aku ... hanya sedang memikirkan kalimat yang tepat untuk mengatakannya." Adam sedikit tergagap.
Entah mengapa, laki-laki itu justru gugup bukan main setelah sampai disana dan duduk berhadap-hadapan dengan gadis yang selama ini mendominasi pikirannya itu.
"Tinggal katakan saja, kenapa harus repot mencari kata-kata yang tepat? Kamu tidak sedang bersiap membacakan puisi, bukan?" celoteh Anna diiringi kekehan ringan.
Adam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia semakin merasa gugup hingga membuat laki-laki itu harus menarik napas panjang dan membuangnya perlahan secara berulang-ulang, untuk membuat dirinya lebih tenang.
"Anna, sebenarnya aku ingin mengatakan ini sejak lama tapi aku tidak pernah memiliki kesempatan. Kali ini, aku akan mengatakan perasaanku terhadapmu," ujar Adam setelah ia berhasil mengontrol kegugupannya.
Anna mematung di tempatnya, seperti sudah bisa memprediksi kalimat apa yang akan laki-laki itu ucapkan setelah ini.
"Anna, aku menyukaimu. Kamu tahu, aku selalu memperhatikanmu dan itu bukan tanpa alasan. Itu karena aku jatuh cinta pada dirimu."
Benar! Sesuai prediksi Anna, kalimat itu keluar dari mulut Adam.
Adam mengeluarkan sekuntum mawar merah sebagai tanda pernyataan cintanya. "Anna, maukah kamu menjadi kekasihku?"
Anna semakin tercekat, tak bisa berkata-kata. Bahkan untuk bernapas dengan baik saja ia kesulitan.
Lama, Anna tak memberikan jawaban. Pikiran Anna justru melayang jauh. Hingga keheningan menyelimuti kedua manusia itu untuk beberapa saat.
Anna tertawa getir di dalam hati. Tiba-tiba ia mengingat sosok laki-laki yang telah pergi tanpa kabar selama hampir satu tahun. Laki-laki itu pergi setelah membuat janji manis. Namun apakah Anna masih harus mempercayai janji yang ia sendiri tak tahu apakah janji itu akan ditepati, atau hanya sekedar janji palsu belaka?
Kini, di hadapannya ada seorang laki-laki yang menyatakan cinta padanya, terlihat tulus dan serius. Namun Anna sama sekali tak berniat menerima cinta itu. Anna justru terjebak pada sebuah janji yang mengambang tanpa kejelasan.
"Anna, kamu mendengar apa yang aku bicarakan, kan?"
Ucapan Adam kali ini membuyarkan lamunan Anna. Gadis itu mengerjapkan mata berkali-kali sambil menggerakkan bola matanya kesana-kemari, sangat tidak tenang.
Jemarinya saling terpaut dan saling meremas, menunjukkan betapa gugup dirinya saat ini.
"Y-ya, aku mendengarnya," balas Anna setelah berusaha lebih fokus.
"Jadi, apa jawabanmu, Anna?" Adam menanti jawaban sang gadis dengan harap-harap cemas.
"Adam, aku sangat berterima kasih padamu karena kamu sudah sangat baik dan selalu perhatian padaku. Tapi maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu, aku tidak memiliki perasaan yang sama untukmu. Dan yang paling penting ...." Anna menggantungkan kalimatnya, membuat Adam semakin berdebar menanti kelanjutan kalimat Anna.
"Kamu belum menyelesaikan perkataanmu, Anna," tegur Adam mengingatkan, ketika setelah beberapa saat Anna tak kunjung bicara.
"Aku sudah memiliki kekasih, Adam. Aku tidak bisa menerimamu karena aku tidak mungkin menyimpan dua cinta di dalam hatiku."
Di dalam hati, Anna menertawakan diri sendiri, bersamaan dengan napasnya yang tiba-tiba sesak.
Memiliki kekasih, ya? Apakah memang benar begitu? Atau mungkin hanya Anna yang terlalu bodoh dan terjebak pada angannya sendiri.
Bagaimana jika kenyataannya laki-laki yang selalu ia harapkan tidak pernah datang?
"Aku tidak tahu kalau sebenarnya kamu sudah memiliki kekasih, Anna. Kalau aku tahu itu, aku tidak akan lancang menyatakan perasaanku pada gadis yang telah memiliki kekasih." Adam segera meminta maaf karena memang dia benar-benar tidak tahu bahwa Anna telah memiliki kekasih.
Anna menggeleng. "Tidak perlu meminta maaf karena kamu tidak melakukan kesalahan apapun, Adam. Aku lah yang seharusnya meminta maaf karena mungkin aku telah membuat harapan palsu untukmu."
"Tidak, Anna. Kamu selalu menolakku setiap aku mengajakmu pergi, seharusnya aku sadar bahwa kamu sedang menjaga perasaan pasanganmu. Tapi aku tidak memahami itu."
Keduanya kembali terdiam. Sunyi menyelimuti mereka untuk kesekian kalinya.
"Adam, aku harap kita tetap bisa berhubungan baik seperti sebelumnya, setelah hari ini," ujar Anna.
"Tentu saja, Anna. Kita akan selalu menjadi teman baik."
Anna mengangguk lagi. "Terima kasih untuk coklat hangatnya. Aku rasa aku harus segera pergi."
Setelah mengatakan itu, Anna langsung berlari keluar menerobos hujan yang sudah mulai membasahi bumi sejak beberapa menit lalu.
"Tapi di luar hujan, Anna!" teriakan Adam tidak diindahkan oleh gadis yang sudah buru-buru pergi, ingin menyembunyikan air matanya.
Anna terus berlari di tengah hujan dan sedikit guntur. Anna meremas dadanya yang semakin sesak.
Hujan pertama di tahun ini menjadi saksi kepedihan Anna.
Satu tahun silam, seorang laki-laki yang berstatus sebagai kekasih Anna, pergi meninggalkan Anna tepat pada hujan terakhir di tahun itu. Sebelum pergi, laki-laki itu membuat janji, bahwa ia akan datang menemui kekasihnya pada hujan pertama di tahun berikutnya. Dan laki-laki itu pun meminta Anna untuk menjaga cinta mereka, serta bertahan hingga laki-laki itu datang menjemputnya.
Anna sudah menepati janjinya. Seharusnya hari ini kekasihnya datang, namun kenyataannya laki-laki itu tak juga datang.
"Meskipun aku tahu kamu mungkin akan mengingkari janji, tapi aku tidak akan mengingkari janji. Aku tetap akan setia menunggu kamu, Fero."
***
Anna menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Karena menerobos hujan, Anna segera mandi keramas agar tidak terserang flu.
Sambil masih menggosok rambut, Anna pergi ke arah dapur dimana ibunya tengah mengaduk teh hangat.
Anna mendekat dan menyerobot satu cangkir teh untuk diminumnya. Hujan-hujan begini memang enaknya minum atau makan yang hangat-hangat.
Anna memperhatikan jumlah gelas yang masih tersisa di atas nampan. Di rumah ini hanya ada Anna, dan kedua orang tuanya. Namun Anna melihat masih ada sisa tiga cangkir teh setelah ia mengambil satu cangkir. Itu membuat Anna bertanya-tanya.
"Bu, ibu nggak kebanyakan buat tehnya?" tanya Anna.
"Nggak dong," balas sang ibu.
"Memangnya ada siapa lagi selain aku, Ibu, dan Bapak?" tanya Anna lagi.
"Di luar ada tamu," balas ibu Anna singkat.
Anna menajamkan pendengarannya, dan benar saja ia mendengar ada suara dua orang tengah mengobrol di teras.
"Siapa yang datang, Bu?"
"Kamu lihat saja sendiri," balas sang ibu seraya mengangkat nampan itu dan berlalu melewati sang putri.
Anna hendak mengikuti langkah ibunya keluar, namun sang ibu segera mencegahnya.
"Lihat, kamu berantakan begitu, memangnya kamu mau keluar menemui tamu dengan penampilan yang seperti itu?"
Anna cengengesan mendengarkan komentar sang ibu.
"Cepat sana rapikan penampilan kamu dulu, habis itu menyusul ke teras. Jangan lama-lama," pinta sang ibu.
"Baiklah, Bu."
Anna pun segera kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menyisir rambut dan merapikan penampilan. Setelah merasa siap, gadis itu segera menyusul ke teras sesuai titah sang ibu.
Anna melewati pintu depan dan sampailah ia di teras. Matanya menangkap sosok tamu yang kini membelakanginya namun Anna merasa sangat familiar.
'Aku ingin meyakini kalau dia adalah Fero, tapi aku nggak mau kecewa,' batin Anna berbicara.
"Nah, itu dia Anna. Kemarilah, Nak," kata sang ayah yang lebih dulu menyadari kehadiran putrinya.
Mendengar nama Anna disebut membuat si tamu berbalik untuk menatap gadis itu. Dan benar saja dugaan Anna, bahwa laki-laki itu adalah Fero. Meskipun selama satu tahun merek tidak bertemu tetapi Anna masih hafal bagaimana postur tubuh laki-laki yang menjadi pujaan hatinya.
"Fero, itu kamu?" tanya Anna dengan suara bergetar, tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
"Ya, aku datang menepati janjiku, Anna."
Mendengar Fero berkata demikian, membuat Anna lantas berhambur memeluk laki-laki itu, tak peduli meskipun aksinya akan ditonton oleh ayah dan ibunya.
"Kemana aja kamu selama ini?" tanya Anna begitu penasaran dengan alasan kepergian laki-laki itu.
"Aku pergi mempersiapkan diri," balas Fero tenang.
"Mempersiapkan diri?" Anna mengernyit, mengulangi perkataan Fero sebagai pertanyaan.
"Kamu akan segera tahu," balas Fero masih begitu tenang.
"Bu, Pak, saya boleh izin ajak Anna keluar sebentar?" tanya Fero sopan.
"Silakan, Nak, jangan pulang terlalu malam. Dan berhati-hatilah saat berkendara, cuaca sedang hujan." Ayah Anna berkata demikian. Dan dengan begitu Fero membawa Anna pergi setelah mendapat persetujuan dari kedua orangtuanya.
***
"Kamu mau bawa aku kemana, Fero? Kamu belum jawab pertanyaanku dengan jelas, kemana kamu selama setahun silam ini? Kamu sama sekali nggak kasih aku kabar. Kamu menyiksaku!" Gadis itu menggerutu ketika mereka masih dalam perjalanan.
"Kamu akan tahu jawabannya segera," balas Fero sembari membunyikan klakson tepat di depan sebuah gerbang tinggi.
Tak lama kemudian seorang datang membukakan gerbang tersebut dan Fero segera memasuki area bangunan yang mewah tersebut.
"Ayo turun," ujar Fero sambil mengulurkan tangannya setelah membukakan pintu untuk gadisnya.
Meskipun dengan penuh perasaan bingung, Anna tetap patuh.
Fero mengajak Anna berkeliling villa tersebut. Ada sebuah kolam renang besar di satu sisi halaman. Terdapat sebuah taman bunga yang indah terawat di sisi yang lain. Dan ada banyak detail lain yang membuat Anna menyukai tempat itu. Dan yang paling menyita perhatian Anna adalah, ada sebuah spot yang mengarah pada sebuah pemandangan alam, yaitu laut. Dari satu sudut bangunan mewah itu, mereka bisa menikmati keindahan air laut yang menerpa karang, tanpa harus terjun ke pantai langsun. Itu sangat menyenangkan.
"Fero," panggil Anna pelan.
"Ya, Anna?"
"Aku merasa familiar dengan semua detail yang terdapat di villa ini," kata Anna dengan suara lirih.
"Ini semua yang kamu inginkan, bukan? Ini rumah impian kamu, iya kan?"
"Apa maksudmu?"
"Selama satu tahun ini aku berjuang menyelesaikan bangunan ini. Aku ingin mewujudkan satu impian kamu, yaitu menciptakan rumah impian. Aku sengaja nggak menghubungi kamu karena aku memang mau kasih kamu kejutan. Dan ini … villa ini milikmu, Anna," jelas Free dengan wajah yang berseri-seri.
Mulut Anna terbuka lebar, sangat terkejut mendengar pengakuan sang kekasih.
"Ini, apa kamu serius, Fero?" ucap Anna terbata.
"Tentu saja aku serius."
Hati Anna sangat berbunga-bunga sekarang. Beberapa jam yang lalu Anna sempat ragu dan menganggap Fero akan ingkar janji. Namun Anna tetap berusaha meyakinkan hatinya untuk terus percaya pada janji Fero. Dan berkat keyakinan hatinya, Anna mendapatkan buah kesabaran yang indah sekarang.
Belum selesai Anna mengontrol jantungnya yang berdebar tak karuan karena amat bahagia, tiba-tiba saja Fero berlutut di hadapan Anna dan membuat sensasi kebahagiaan yang lain.
Fero membuka sebuah kotak kaca yang di dalamnya ada sebuah cincin berlian.
"Anna, maukah kamu menikah denganku?" ujar Fero dengan wajah penuh harap dan tatapan mata lembut.
Anna lebih berbunga-bunga sekarang. Dan tidak ada alasan bagi Anna untuk menolak lamaran Fero.
"Ya, aku mau."
Bukan hanya Anna, Fero juga amat bahagia karena lamarannya diterima dengan penuh kebahagiaan oleh kekasih hatinya.
Orang yang memiliki Budi pekerti yang baik akan selalu menepati janji. Dan tetaplah menjadi orang yang amanah saat mengemban janji.
— TAMAT —

Post a Comment for "Hujan Pertama Di Tahun Ini"