Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Unspoken Word - Lelah (Episode 5)

UNSPOKEN WORD




EPISODE 5 - LELAH

Cepat-cepat Mozza mengusap pipinya, membersihkan sisa air mata sebelum gadis itu merespon pertanyaan ayahnya.

"Salam dulu, Pa, assalamualaikum," kata Mozza.

"Wa'alaikumsalam. Iya papa sampai lupa karena lihat kamu kayak gitu. Kamu habis nangis?"

"Iya, Mozza nangis," balas Mozza tidak mengelak karena sudah ketahuan juga. Percuma jika berbohong, ayahnya tidak mudah dibohongi, justru akan melempari banyak pertanyaan nantinya.

"Kenapa kamu menangis, Sayang?" tanya Anthony yang terlihat membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas mejanya. Laki-laki paruh baya itu lagi-lagi lembur hingga selarut ini.

"Kapan papa akan pulang?" Mozza menjawab pertanyaannya ayahnya dengan pertanyaan pula.

"Kamu belum menjawab pertanyaan papa, tapi udah balik bertanya," ujar Anthony berpura-pura kesal.

"Karena Mozza kangen papa, jadi kapan papa akan pulang?"

Anthony terkekeh. "Kamu kayak anak kecil, kangen papa sampai nangis gitu. Kan ada mama di rumah, kamu ngobrol aja sama mama biar kangennya bisa teralihkan," balas Anthony dengan senyum menghiasi bibirnya.

"Beda lah, Pa, papa tau sendiri aku kan lebih dekat sama papa. Ayolah, Pa, cepat pulang." Mozza merengek persis anak kecil yang minta dibelikan permen kapas.

"Justru itu, ini kesempatan kamu untuk bisa lebih dekat dengan mama." Anthony menasehati.

'Mencoba lebih dekat dengan mama? Apa itu bisa?' batin Mozza.

Ya, sebagai anak perempuan yang umumnya lebih dekat dengan ibunya, Mozza justru lebih dekat dengan ayahnya. Dan bahkan Mozza lebih leluasa bercerita tentang apa saja dengan ayahnya, daripada harus menceritakan pada ibunya. Karena ibunya tidak setelaten ayahnya.

Sebagai seorang ibu, Salma seringkali lebih mementingkan teman-teman sosialitanya dibandingkan harus mendengarkan curhatan putrinya yang menurutnya tidak penting. Itu yang membuat Mozza jadi enggan berkeluh kesah pada ibunya.

"Papa tau sendiri, mama lebih suka berbicara dengan teman-temannya yang saling memamerkan harta, daripada harus mendengarkan aku berbicara."

"Kalau kamu nggak mencoba, kamu nggak akan tahu hasilnya."

"Aku udah pernah mencoba, Pa, tapi mama nggak pernah mau menanggapi obrolan aku, apapun itu." Mozza kembali merengek.

"Itu berarti kamu kurang keras dalam berusaha. Nggak mungkin sekali usaha langsung berhasil, kamu harus berusaha dan sabar, agar kamu mendapatkan apa yang kamu mau," balas Anthony masih berusaha menasehati putrinya.

"Mama kamu hanya kesepian karena papa selalu pergi untuk bekerja dan itu nggak sebentar. Jadi wajar kalau mama kamu pergi ke pertemuan dengan teman-temannya, kamu maklumi saja, oke?"

Mozza terdiam. Mendengar papanya mengatakan tentang mamanya yang kesepian, tiba-tiba Mozza teringat kejadian sore tadi yang membuatnya seketika merasa mual.

Alasan mamanya melakukan perselingkuhan itu juga karena kesepian, tapi Mozza tidak membenarkan cara mamanya yang gila itu. Bahkan ada secuil perasaan benci yang kini Mozza rasakan. Rasanya Mozza muak melihat mamanya, apalagi mamanya sama sekali tidak merasa bersalah setelah melakukan kesalahan.

"Kok diem aja? Ada apa? Kamu pasti mau curhat ya?" tebak Anthony melihat keterdiaman sang putri.

"Iya, tapi aku maunya curhat langsung, apa papa akan pulang dalam waktu dekat?" Mozza menunjukkan puppy eyes-nya untuk menyentuh hati papanya. Namun itu tak merubah apapun karena papanya masih memiliki banyak pekerjaan.

"Nggak, Sayang, papa masih belum bisa pulang dalam waktu dekat. Paling cepat sekitar satu bulan lagi baru papa akan pulang," balas Anthony menjelaskan.

Mozza menunjukkan wajah murungnya, kecewa karena papanya tidak akan segera pulang dalam waktu dekat.

"Hei, kenapa anak papa murung? Ayo tersenyum! Hanya satu bulan kok, itu nggak terlalu lama," bujuk Anthony.

'Lama, itu waktu yang sangat lama, dan itu cukup untuk memperparah kelakuan mama kalau nggak segera dicegah, Pa.'

Mozza hanya membalas kalimat itu di dalam hati, tidak menyuarakannya.

"Papa jangan capek-capek, nggak ada yang merawat papa kalau sampai papa sakit. Jangan lembur terus, nggak baik buat kesehatan papa." Mozza mengalihkan pembicaraan.

"Papa bisa menjaga diri, papa tahu batasan diri papa, kamu nggak perlu khawatir," balas Anthony dengan senyum hangat menyertai. Mozza hanya merespon dengan anggukan kepala.

"Kamu merekam video dimana hari ini?" tanya Anthony yang memang mengetahui kegiatan putrinya dan mengikuti perjalanan putrinya dengan menonton video-video yang di update di channel YouTube.

"Aku tadi ke kota tua, Pa, videonya belum aku upload, aku capek," kata Mozza.

"Kamu juga jangan capek-capek, nggak harus setiap hari rekam video kan? Sesuaikan aja sama jadwal ngajar kamu, pokoknya kamu harus melakukan dengan nyaman, jangan sampai jadi beban." Anthony kembali menasehati putrinya.

"Iya, Pa, aku paham."

"Jadi, apa kamu lelah sama anak yang kamu ajar? Atau ada masalah lain?"

Mozza menghela napas panjang. "Ini nggak ada hubungannya sama anak-anak yang aku ajar, Pa, tapi karena ada beberapa hal yang bikin aku kelelahan, tapi bukan lelah fisik," balas Mozza.

"Kamu lagi ada masalah?" Anthony terlihat mengernyit.

"Sedikit, tapi aku akan segera menyelesaikannya, papa nggak usah khawatir."

"Baiklah, karena kamu sedang kelelahan sebaiknya kamu segera istirahat. Jangan tidur terlalu malam, nanti kulit kamu kusut, mau? Kamu harus jaga kesehatan juga, jangan banyak begadang." Anthony berpesan.

"Iya, Pa, aku tau."

"Kalau gitu papa tutup telponnya ya, kamu segera istirahat," pesan Anthony lagi.

"Iya, papa juga segera istirahat, assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Mozza menjatuhkan ponselnya diatas tempat tidur, ia sedikit lebih lega setelah berbicara dengan papanya. Tapi tetap saja, perasaan cas masih menyelimuti hati Mozza. Gadis itu berpikir, bagaimana jika mamanya tetap mempertahankan hubungannya dengan laki-laki itu, dan bagaimana jika papanya sampai tahu? Perang dunia pasti akan terjadi.

Mozza membuang napas kasar kemudian memejamkan matanya rapat-rapat. Seolah dengan memejamkan mata semua masalah akan lenyap pula. Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Masalah tidak akan pergi dengan sendirinya tanpa di selesaikan.

"Apa aku ikuti saran papa aja? Berusaha ngobrol baik-baik dengan mama, siapa tahu mama mau mendengarkan saranku. Jujur saja aku merasa bersalah telah bersikap kurang ajar dan membentak mama, tapi aku sangat kecewa dengan sikapnya." Mozza berbicara sendiri.

"Ya, aku nggak boleh egois. Aku harus bicara dengan mama, ini demi papa. Aku nggak mau mereka bertengkar, aku akan menjaga keutuhan keluarga ini." Dengan mantap, Mozza turun dari tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar.

Samar-samar Mozza bisa mendengar suara televisi yang masih menyala. Mozza mendekat kemudian mengernyit ketika tidak ada mamanya disana, sebelumnya Mozza berpikir mamanya masih menonton televisi selarut ini.

Mozza mengedarkan pandangan, mencari sosok mamanya tapi tidak kunjung ia temukan.

Mozza pergi ke dapur, mungkin saja mamanya tengah mengambil minum sehingga membiarkan televisi tetap menyala, namun wanita itu pun tidak ada di dapur. Mozza berpikir keras, Dianna mamanya sebenarnya?

Mozza beralih menuju kamar mamanya yang sedikit terbuka, dengan lancang Mozza membuka pintu itu dan tidak juga ada mamanya di dalam kamar tersebut. Mozza semakin bertanya-tanya, kemana mamanya pergi semalam ini?

 ***

2 comments for "Unspoken Word - Lelah (Episode 5)"